Your Ad Here

Minggu, 08 November 2009

Cerita Bulan Ini - 3

Pada suatu pagi, Akhmad sebagai seorang teknisi tambak terlihat bergegas menuju lokasi tambak yang ditanganinya, karena ada beberapa petakan tambak yang dijadwalkan akan dilakukan sampling rutin. Memasuki lokasi tambak, Akhmad begitu semangat karena sudah terlihat beberapa petambak yang sudah menunggunya dengan peralatan sampling udang. “Syukurlah mereka sudah siap, kalau tidak, bisa terhambat kegiatan samplingku hari ini.” gumam Akhmad dalam hati. Akhmad mempercepat langkahnya sambil sesekali memperhatikan kondisi perairan tambak yang dia lewati. Sebelum sampai pada tempat dimana para petambak menunggunya, tiba-tiba Akhmad berhenti dan naik di dinding petakan tambak yang hendak disampling. Matanya menatap dengan seksama ke arah perairan tambak karena terlihat gelembung-gelembung kecil yang muncul dipermukaan air tambak pada beberapa tempat. Gelembung-gelembung itu terlihat olehnya karena pada saat itu kincir air dalam kondisi dimatikan untuk memberi kesempatan udang mengkonsumsi pakan yang sudah diberikan. Setelah beberapa saat Akhmad meneruskan langkahnya menghampiri para petambak yang sudah siap membantunya untuk melakukan aktifitas sampling.

“Selamat pagi semuanya, wah kelihatan semangat nih untuk sampling hari ini.” Sapa Akhmad kepada para petambaknya sambil mengeluarkan buku catatan dan kalkulator kecilnya dari saku bajunya. “Jelas semangat Pak, apalagi udang yang akan kita sampling sedang ‘lucu-lucunya’ “, sahut Fulan yang ditugasi untuk merawat udang pada petakan tambak yang hendak disampling itu. “ Pak Fulan bisa saja,” jawab Akhmad sambil tersenyum dan suasana di situpun menjadi ceria ketika petambak yang lainnya ikut tertawa menanggapi pernyataan Fulan.

“Ok, kalau sudah siap kita lakukan sampling sekarang,” ajak Akhmad. Sambil berkemas dia menghampiri Fulan, “Kapan terakhir membersihkan dasar tambak Pak Fulan?” tanya Akhmad. Sembari menenteng jala sampling, Fulan dengan cepat menjawab “Dua hari yang lalu, kalau saya di sini paling disiplin membersihkan dasar tambak Pak” kata Fulan dengan gayanya yang khas. Teman-teman disekelilingnya mendengar celoteh dari Fulan saling bersahutan membalas pernyataan Fulan. “Jadi dijamin bersih tambaknya Pak Fulan” sahut Akhmad sambil tersenyum. “Dijamin bersih, seperti orangnya” jawab Fulan singkat dan sekali lagi hal itu menimbulkan reaksi yang meriah dari yang lainnya. “Dasar tukang bohong,” kata Akhmad dalam hatinya seakan sudah dapat memprediksi kondisi dasar tambak Fulan yang sebenarnya.

Untuk membuktikan prediksinya, Akhmad memilih beberapa titik sampling di area tambak yang sudah dia amati sebelumnya. “Coba kita sampling di sini Pak Fulan” kata Akhmad. Mendengar aba-aba seperti itu Fulan dengan tangkasnya menebarkan jala ke titik sampling yang dimaksud. Secara perlahan Fulan mengangkat jala tersebut, dan secara perlahan juga mulai terlihat endapan lumpur hitam muncul dipermukaan air tambak. Melihat fenomena itu Akhmad pura-pura tidak memperhatikannya, sebaliknya Fulan sudah terlihat gelisah dan semakin gelisah ketika jala sudah seluruhnya terangkat. Kegelisahan Fulan dipicu warna jala menjadi kehitaman karena pengaruh lumpur hitam dari dasar tambak yang ikut terbawa oleh jala.

“Wah ….. hebat, tambak Pak Fulan benar-benar bersih, tapi kalau begini dikatakan bersih, seperti apa kotornya Pak” komentar Akhmad sambil tertawa yang disambut oleh cemoohan teman-teman Fulan secara hampir bersamaan sehingga terdengar seperti paduan suara. Fulan yang merasa sudah berbohong hanya bisa diam sambil tangannya melepaskan udang-udang yang tersangkut di jala untuk dimasukkan ke dalam ember sampling. “Waduh ternyata udangku juga ikut-ikutan berwarna gelap dibandingkan punya teman-temannya,” gumam Fulan sambil memperhatikan udang-udang yang sudah masuk ke dalam ember tersebut.

Berdasarkan cerita di atas, ada satu pertanyaan dasar yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi kita, yaitu : mengapa Akhmad sebagai seorang teknisi tambak dapat mengetahui bahwa Fulan telah berbohong tentang kondisi dasar tambaknya? Jika kita cermati, maka sebenarnya Akhmad sudah dapat memprediksi kondisi dasar tambak tersebut berdasarkan pengamatan terhadap permukaan air tambak pada kondisi kincir air tidak dioperasikan yang dilakukan sebelum kegiatan sampling. Pada permukaan air tambak tersebut terlihat gelembung-gelembung kecil yang muncul dari dasar tambak. Fenomena itulah yang dijadikan sebagai dasar dalam memprediksi kondisi dasar tambak.

Ada beberapa hal yang dapat kita jadikan sebagai bahan pembelajaran dari cerita di atas, antara lain:
  1. Banyak fenomena alam baik di dalam petakan tambak maupun di lingkungan sekitarnya meskipun kelihatan sepele dapat kita jadikan indicator dalam memprediksi suatu kondisi terkait dengan proses budidaya udang.

  2. Melalui pengamatan yang cermat dan rasa keingintahuan yang kuat akan semakin banyak pengetahuan kita dalam memprediksi hubungan sebab akibat yang terjadi dalam suatu proses budidaya udang.

  3. Terdapat korelasi yang erat antara unsur-unsur penyusun suatu ekosistem perairan tambak. Jika terjadi perubahan pada suatu unsur tersebut, maka akan berpengaruh pada unsur-unsur lainnya.

  4. Jadikan fenomena alam seperti dimaksud pada item no. 1 sebagai guru kita untuk menambah pemahaman dan wawasan yang tidak dapat kita dapatkan dari orang lain.
Semoga cerita tersebut di atas dapat bermanfaat bagi Anda semua.

Anda menyukai artikel ini, silakan klik tombol oranye ini Subscribe in a reader

Artikel Terkait :

  1. Cerita Minggu Ini - 2
  2. Cerita Minggu Ini -1

Selengkapnya......

Rabu, 04 November 2009

Pengaruh Musim Terhadap Proses Budidaya Udang

Faktor musim memiliki pengaruh yang nyata terhadap proses budidaya udang terutama terkait dengan pengelolaan kualitas air tambak, kondisi serta kualitas udang. Sebagai negara tropis Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda terhadap proses budidaya udang. Karakteristik tersebut terkait dengan intensitas sinar matahari dan intensitas air hujan pada perairan tambak. Mengacu pada perbedaan karakteristik tersebut maka sudah selayaknya jika system pengelolaan budidaya udang pada kedua musim tersebut juga berbeda agar tidak terjadi treatment error yang dapat merugikan usaha budidaya udang pada periode tersebut.

Tabulasi di bawah ini merupakan matriks perbedaan antara musim kemarau dan musim hujan serta pengaruhnya terhadap kualitas air dan kondisi/kualitas udang.


Pengetahuan dasar tentang karakteristik musim kemarau dan musim hujan bagi proses budidaya udang sudah sewajarnya dipahami oleh para pelaku budidaya udang, karena bagaimanapun juga pada umumnya proses budidaya udang di Indonesia dilakukan pada dua periode musim tersebut dalam satu tahun secara bergantian.
Berdasarkan tabulasi di atas terlihat bahwa intensitas sinar matahari sangat berpengaruh terhadap kualitas air tambak yang pada akhirnya ikut berpengaruh pula pada pertumbuhan udang. Meskipun memiliki karakteristik yang berbeda, proses budidaya udang pada kedua musim tersebut sama-sama memerlukan penanganan yang cermat terutama dalam pengelolaan kualitas air tambak. Kecermatan penanganan dibutuhkan sebagai upaya mencegah kecenderungan perubahan kualitas air secara drastic yang disebabkan oleh karakteristik kedua musim tersebut.

Pengetahuan dasar tentang karakteristik musim kemarau dan musim hujan bagi proses budidaya udang sudah sewajarnya dipahami oleh para pelaku budidaya udang, karena bagaimanapun juga pada umumnya proses budidaya udang di Indonesia dilakukan pada dua periode musim tersebut dalam satu tahun secara bergantian.

Anda menyukai artikel ini, silakan klik tombol oranye ini Subscribe in a reader

Artikel Terkait :

  1. Waspada Terhadap Musim Hujan
  2. Kecerahan Perairan Tambak – 03 – Indikator Pada Udang
  3. Kecerahan Perairan Tambak – 02 –Tingkat Kecerahan
  4. Kecerahan Perairan Tambak - 01- Latar Belakang
  5. Warna Air Tambak – 03 – Kriteria Warna Air
  6. Warna Air Tambak – 02 – Aspek Analisis
  7. Warna Air Tambak - 01 - Dasar Pemikiran
  8. Kondisi Dasar Tambak – 03 - Dasar Pertimbangan
  9. Kondisi Dasar Tambak – 02 - Metode Pengamatan
  10. Kondisi Dasar Tambak - 01 - Latar Belakang
  11. Penggunaan Bahan Kimia – 02 - Tahapan Implementasi
  12. Penggunaan Bahan Kimia – 01 - Dasar Pemikiran
  13. Metode Pengelolaan Kualitas Air Tambak 04 - Inokulasi Air
  14. Metode Pengelolaan Kualitas Air Tambak 03 - Pemupukan Air Tambak
  15. Metode Pengelolaan Kualitas Air Tambak 02 - Sirkulasi Air
  16. Metode Pengelolaan Kualitas Air Tambak 01 - Latar Belakang
  17. Pengelolaan Kualitas Air Tambak 04 - Kondisi Fisik Air Tambak
  18. Identifikasi Permasalahan Kualitas Air Tambak

Selengkapnya......

Jumat, 23 Oktober 2009

Keseragaman Udang dan Alternatif Pengelolaannya

Pada pembahasan sebelumnya telah diuraikan dasar pemahaman terkait dengan tingkat keragaman udang. Sebagaimana telah dijelaskan, udang dalam suatu populasi di tambak secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu : (i) udang seragam, (ii) tingkat keseragaman udang sedang, dan (iii) tingkat keseragaman udang parah. Selain penjelasan tersebut, pemahaman tentang alternative cara pengelolaannya berdasarkan kondisi yang dijumpai di lapangan.

Secara garis besar pengelolaan yang perlu dilakukan terkait dengan keseragaman udang meliputi pengelolaan program pakan dan pengelolaan kualitas air (asumsi: benur yang digunakan relative telah seragam, baik ukuran maupun usianya). Alternatif pengelolaan terhadap kondisi tersebut di atas adalah sebagai berikut:
  1. Udang Seragam. Jika populasi udang di dalam tambak menunjukkan ukuran udang relatif seragam, maka pengelolaan secara teknis yang perlu dilakukan adalah bagaimana cara mempertahankan kondisi ideal tersebut hingga udang siap untuk dipanen secara normal. Pengelolaan program pakan harus selalu mengikuti tingkat kebutuhan udang dan jumlah pakan harian yang diberikan sesuai dengan tingkat kepadatan udang di dalam tambak. Pada kondisi seperti ini biasanya jumlah pakan yang diberikan akan menunjukkan kecenderungan yang selalu meningkat berdasarkan waktu (kecuali udang dalam kondisi moulting secara periodik). Program pakan harus dikelola secara cermat berdasarkan pengamatan yang dilakukan (melalui check ancho maupun sampling).

    Selain program pakan, alternative pengelolaan yang perlu dilakukan adalah kualitas air tambak. Biasanya terdapat korelasi antara keseragaman udang dan kualitas air (asumsi: program pakan yang diterapkan sudah seperti tersebut di atas), yaitu: ukuran udang akan relative seragam jika pengelolaan kualitas air sesuai dengan tingkat kebutuhan udang. Upaya yang perlu dilakukan dalam pengelolaan kualitas air adalah bagaiamana mempertahankan kualitas air tambak relative stabil dan tidak terjadi fluktuasi perubahan kualias air tambak tersebut. Penjelasan terkait dengan pengelolaan kualitas air tambak telah diuraikan dalam pembahasan-pembahasan terdahulu.

  2. Udang dengan tingkat keseragaman sedang. Pada kondisi seperti ini pengelolaan secara teknis yang perlu dilakukan adalah bagaimana cara mencegah agar tingkat keseragamannya tidak bertambah parah serta upaya untuk memperbaikinya kea rah yang lebih bagus. Program pakan yang diterapakan perlu ditinjau ulang terutama terkait dengan komposisi ukuran pakan udang serta jumlah pakan yang diberikan. Komposisi ukuran pakan dan jumlahnya dapat diestimasi secara kasar melalui pengamatan pada waktu sampling dan cek ancho. Estimasi yang dilakukan mencakup persentase kepadatan masing-masing ukuran udang dalam suatu populasi, sehingga dapat diperkirakan berapa ukuran pakan yang akan digunakan dan jumlah yang akan diberikan dalam satu kali frekuensi pakan harian. Komposisi tersebut perlu disesuaikan kembali dengan mengacu pada pengamatan yang dilakukan. Jika tingkat keseragaman udang mengarah ke tingkat yang lebih baik maka ukuran pakan yang diberikan akan lebih sedikit.

    Contoh : dalam suatu populasi udang di tambak memiliki 3 jenis ukuran yang berbeda, maka pakan yang diberikan sebaiknya terdiri dari 3 jenis ukuran pakan yang berbeda pula yang disesuaikan dengan ukuran udang yang ada. Jika keseragaman udang di tambak tersebut ternyata mengarah ke tingkat yang lebih baik, misalnya menjadi 2 jenis ukuran udang, maka komposisi jenis ukuran pakan yang diberikan sebaiknya juga menjadi 2 jenis ukuran pakan. Pengelolaan kualitas air tambak yang dilakukan pada kondisi seperti ini relative sama dengan item no. 1 tersebut di atas.

  3. Tingkat keseragaman udang parah. Pada kondisi seperti ini pengelolaan secara teknis yang perlu dilakukan adalah bagaimana cara mencegah agar populasi udang di dalam tambak tersebut tidak menyusut secara drastic (karena proses kanibalisme). Program pakan yang perlu diterapkan pada dasarnya seperti penjelasan pada item no. 2, hanya komposisi jenis ukuran pakan yang digunakan dalam satu kali frekuensi pemberian pakan biasanya akan lebih banyak pula. Pada penanganan yang lebih ekstrim, biasanya dilakukan penyortiran ukuran udang secara langsung pada saat dilakukan cek anco atau pada saat kegiatan sampling (tidak direkomendasikan). Penyortiran dilakukan terhdap udang-udang dengan ukuran yang dianggap ketinggalan terlalu jauh dengan ukuran udang normal, sehingga diharapkan tingkat keseragaman udang didalam tambak tersebut akan menjadi lebih baik meskipun secara densitas mengalami penurunan. Pengelolaan kualitas air tambak yang dilakukan pada kondisi seperti ini relative sama dengan item no. 1 tersebut di atas.
Alternatif penanganan tersebut di atas pada dasarnya adalah upaya untuk mempertahankan, memperbaiki dan mencegah suatu kondisi agar tingkat keseragaman udang dalam suatu populasi di tambak dapat mengarah kepada kondisi seperti yang diharapkan terutama pada output secara optimal.

Anda menyukai artikel ini, silakan klik tombol oranye ini Subscribe in a reader

Artikel Terkait :

  1. Tingkat Keseragaman Udang
  2. Kenali Kualitas Pakan Udang Anda Secara Praktis
  3. Parameter Praktis Kualitas pakan Udang
  4. Bagaimana Mencapai Nilai FCR (Food Conversion Ratio) Secara Optimal
  5. Jangan Terperangkap Target FCR (Food Conversion Ratio)
  6. Pakan Buatan Untuk Udang
  7. Program Pakan Udang
  8. Frekuensi Pakan
  9. Program Pengelolaan Pakan Udang 02 - Penentuan Jenis Pakan (Pakan Alami)
  10. Program Pengelolaan Pakan Udang 01 - Latar Belakang
  11. Proses Tebar Benur 01 - Latar Belakang
  12. Kecerahan Perairan Tambak – 03 – Indikator Pada Udang
  13. Kecerahan Perairan Tambak – 02 –Tingkat Kecerahan
  14. Kecerahan Perairan Tambak - 01- Latar Belakang
  15. Warna Air Tambak – 03 – Kriteria Warna Air
  16. Warna Air Tambak – 02 – Aspek Analisis
  17. Warna Air Tambak - 01 - Dasar Pemikiran
  18. Kondisi Dasar Tambak – 03 - Dasar Pertimbangan
  19. Kondisi Dasar Tambak – 02 - Metode Pengamatan
  20. Kondisi Dasar Tambak - 01 - Latar Belakang

Selengkapnya......

Selasa, 20 Oktober 2009

Video 03 - Biologi dan Ekologi dari Penaeus monodon

Sebagai upaya menambah wawasan terkait dengan teknologi budidaya udang, maka blog ini akan mencoba menampilkan cuplikan video dari berbagai sumber yang terkait dengan budidaya udang/aquaculture. Semoga bermanfaat.

Biologi dan Ekology dari Penaeus monodon


Selengkapnya......

Sabtu, 17 Oktober 2009

Tingkat Keseragaman Udang

Ukuran udang dalam suatu populasi di tambak sangat berpengaruh terhadap proses pengelolaan budidaya secara teknis terutama pada sistem pengelolaan pakan yang akan diterapkan. Pada usia udang mendekati panen normal, ukuran udang sangat berpengaruh terhadap harga jualnya atau dengan kata lain ukuran udang memiliki nilai penting dalam menentukan tingkat keuntungan financial yang akan diperoleh.

Berdasarkan pada pemikiran tersebut di atas, maka pada tulisan ini akan dibahas tentang tingkat keseragaman udang. Secara sederhana tingkat keseragaman udang dapat diartikan sebagai tingkat variasi ukuran udang dalam suatu populasi pada usia yang relative sama dalam periode waktu tertentu. Tingkat variasi ukuran menunjukkan bahwa udang dalam populasi tersebut memiliki berbagai macam ukuran yang berbeda satu sama lain.

Secara ideal pada saat tahap penebaran benur yang dimasukkan ke dalam tambak memiliki ukuran yang relative sama. Selama proses budidaya ukuran udang dalam suatu populasi dapat mengalami perubahan, sehingga ukuran udang yang awalnya relative sama menjadi bervariasi satu sama lain. Fenomena ini terjadi lebih banyak disebabkan oleh sistem pemberian pakan terutama di saat awal-awal tebar / fase bulan pertama (pembahasan terkait dengan ini telah diuraikan dalam pembahasan-pembehasan sebelumnya). Bervariasinya ukuran udang dalam suatu populasi juga dapat disebabkan oleh ukuran benur yang digunakan pada saat tebar memang sudah memiliki ukuran yang relative bervariasi.

Secara garis besar tingkat keseragaman udang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
  1. Seragam. Populasi udang dalam tambak yang memiliki ukuran seragam dan merupakan tingkat keseragaman yang paling bagus. Kondisi seperti ini akan lebih memudahkan dalam pengelolaan pakan, pengelolaan air dan jika dapat dipertahankan sampai panen normal akan lebih memudahkan dalam melakukan estimasi biomas dan harga jualnya. Di lapangan untuk ukuran udang yang seragam biasanya para teknisi memberikan kode dengan ibu jari (berarti bagus /memiliki satu ukuran).

  2. Tingkat keseragaman sedang. Populasi udang dalam tambak memiliki ukuran yang relative tidak terlalu banyak tingkat variasinya. Kondisi seperti ini memerlukan perlakuan yang lebih intensif dan cermat terutama dalam pengelolaan pakan, pengelolaan air sehingga diharapkan ukuran udang dapat dikurangi tingkat variasinya. Di lapangan untuk tingkat keseragaman udang sedang biasanya para teknisi memberikan kode dengan tiga jari (ibu jari, telunjuk dan kelingking).

  3. Tingkat keseragaman udang parah. Populasi udang dalam tambak memiliki ukuran dengan tingkat variasi yang tinggi. Kondisi ini jika tidak ditangani dengan serius akan dapat mempersulit pengelolaan tambak secara keseluruhan. Secara ekstrim kondisi seperti ini dapat mengakibatkan terjadinya kanibalisme antar udang (udang dengan ukuran kecil akan dimangsa udang yang berukuran lebih besar), sehingga secara tidak langsung akan mengakibatkan penyusutan jumlah udang (survival rate) yang kontinyu yang pada akhirnya akan terjadi penyusutan biomass.

    Kondisi ini perlu ditangani secara serius dan memerlukan pengamatan yang sangat cermat, dan pada kondisi tertentu system pengelolaan (pakan, kualitas dan kondisi udang) dapat direvisi kembali untuk disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu. Di lapangan untuk tingkat keseragaman udang biasanya para teknisi memberikan kode dengan lima jari.
Tingkat keseragaman seperti tersebut di atas dapat dimonitoring berdasarkan pengamatan melalui sampling (ancho dan jala) atau pada saat dilakukan pengecekan program pakan di anco. Jika sudah diketahui tingkat keseragaman udang di dalam tambak maka pengambilan keputusan akan mengarah pada mempertahankan (untuk udang seragam), memperbaiki (untuk tingkat keseragaman sedang), atau merevisi (untuk tingkatan yang sudah parah) tergantung dari hasil pengamatan yang dilakukan.

Anda menyukai artikel ini, silakan klik tombol oranye ini Subscribe in a reader

Artikel Terkait :

  1. Kenali Kualitas Pakan Udang Anda Secara Praktis
  2. Parameter Praktis Kualitas pakan Udang
  3. Bagaimana Mencapai Nilai FCR (Food Conversion Ratio) Secara Optimal
  4. Jangan Terperangkap Target FCR (Food Conversion Ratio)
  5. Pakan Buatan Untuk Udang
  6. Program Pakan Udang
  7. Frekuensi Pakan
  8. Program Pengelolaan Pakan Udang 02 - Penentuan Jenis Pakan (Pakan Alami)
  9. Program Pengelolaan Pakan Udang 01 - Latar Belakang

Selengkapnya......

Jumat, 16 Oktober 2009

Budidaya Udang adalah Memelihara Makhluk Hidup

Budidaya udang sebagai suatu usaha yang berorientasi pada keuntungan financial, sudah sewajarnya jika para pelaku usaha ini sangat mengharapkan agar usaha yang dijalankannya dapat memberikan tingkat keuntungan yang memuaskan. Berbagai upaya dan cara dilakukan agar kegiatan budidaya udang tidak terkena masalah yang dapat menimbulkan kerugian. Tapi seperti kita ketahui bersama belum ada ilmu pengetahuan yang dapat merumuskan suatu teknologi yang menjamin kelangsungan hidup udang secara pasti. Teknologi yang ada hanya berupa pendekatan-pendekatan secara ekologi/ekosistem, fisika, kimia, biologi serta pendekatatan teknis budidaya lainnya yang berupaya memperkecil resiko udang terkena masalah. Usaha budidaya udang bukanlah sebuah ilmu pasti/matematika yang selalu memberi kepastian hasil pada rumus/formulasi tertentu.

Pada kegiatan budidaya udang selain pendekatan secara teknis, pendekatan yang relative penting untuk dipahami adalah pendekatan non teknis. Secara sederhana pendekatan non teknis dapat diartikan sebagai pendekatan yang digunakan dalam berbudidaya udang di luar factor teknis yang secara tidak langsung ikut berpengaruh pada keberhasilan usaha ini. Pendekatan non teknis lebih mengarah pada filosofi yang perlu dipahami oleh para pelaku usaha budidaya udang.

“Budidaya udang adalah memelihara mahluk hidup” sebuah kalimat sangat sederhana yang barangkali bagi sebagian besar pembaca tidak memiliki makna apa-apa, karena siapapun tahu bahwa udang adalah makhluk hidup. Berdasar pada kalimat sederhana itulah sebenarnya dapat kita gali sebuah filosofi dasar yang perlu dipahami oleh setiap pelaku usaha budidaya udang.

Udang sebagai mahluk hidup adalah mahluk bernyawa yang setiap saat dapat mengalami kematian tanpa kita tahu kapan terjadinya dan apa penyebabnya. Pemahaman ini terkait langsung dengan keyakinan kita terhadap Allah SWT sebagai Pencipta Segenap Alam yang mengetahui segala rahasia apa yang telah diciptakan-Nya. Jika keyakinan ini kita kembalikan pada pengertian dasar bahwa budidaya udang adalah memelihara makhluk hidup, maka pada dasarnya dalam melakukan proses budidaya udang kita sebenarnya sedang menjalankan amanah dari Sang Pencipta untuk merawat dan memelihara udang tersebut dengan sepenuh hati dan kasih sayang serta bersungguh-sungguh dalam berusaha. Sehingga, apapun hasilnya tetap menjadi rahasia Sang Pencipta.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sering dijumpai kejadian bahwa udang yang sudah dinyatakan bagus dari segi kondisi dan kualitasnya dan didukung oleh kualitas perairan tambak yang bagus juga tiba-tiba udang megalami kematian massal dalam waktu yang relatif singkat. Sebaliknya ada juga udang di dalam tambak yang divonis bakal mengalami masalah justru dapat dipanen secara normal dengan biomas yang diluar dugaan.

Filosofi dasar tersebut di atas jika tidak dipahami dengan baik dapat membuat kita terperangkap dalam sifat-sifat yang kurang baik sebagai manusia. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak sedikit para pelaku budidaya yang menjadi sombong ketika usaha budidaya udangnya berhasil dan mengklaim bahwa keberhasilan tersebut berkat teknik budidaya yang dimilikinya dan ketika diminta untuk berbagi pengalaman dengan ekstrim mengatakan bahwa ilmu udang itu mahal ! Sebaliknya jika usaha budidaya udang sedang mengalami banyak masalah maka yang paling banyak dijadikan sebagai biang masalah adalah karena faktor eksternal lingkungan, bukan karena faktor perlakuan teknis yang telah diberikannya.

Pembahasan dan ilustrasi tersebut diatas semoga dapat dijadikan sebagai bahan renungan bagi para pelaku usaha budidaya udang bahwa selain factor teknis yang perlu kita kuasai ada juga factor non teknis yang perlu kita pahami sebagai sebuah filosofi. Masih banyak filosofi lain dalam berbudidaya udang yang barangkali pembaca lebih memahami dari pada penulis. Semakin kita memahami filosofi budidaya udang, maka akan semakin membuat kita sadar, sesunguhnya ilmu dan pengetahuan budidaya udang yang kita miliki masih sangat minim sekali.

“…..sayangilah udang Anda dan perhatikan apa yang akan udang berikan kepada Anda ….”
Semoga bermanfaat.

Anda menyukai artikel ini, silakan klik tombol oranye ini Subscribe in a reader

Artikel Terkait :

  1. Sayangilah Udang Anda

Selengkapnya......

Artikel Terbaru

Lokasi Pengunjung Blog

Recent Comments

My Google Reader

My Lovely Visitors

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP