Your Ad Here

Sabtu, 28 November 2009

Pemanenan Udang

Pemanenan udang merupakan tahap akhir dari satu periode siklus budidaya, karena dengan dilaksanakannya panen udang dalam suatu tambak maka tidak ada lagi proses pemeliharaan/perawatan udang pada periode tersebut. Pemanenan udang secara sedehana dapat diartikan sebagai proses pemungutan udang di dalam sebuah petakan tambak sebagai hasil proses budidaya dalam satu periode. Keputusan dilakukannya panen pada sebuah petakan tambak mengacu pada dasar pertimbangan yang terkait dengan kondisi, ukuran dan kualitas udang yang ada di dalam tambak tersebut dibandingkan dengan variable biaya produksi lainnya.

Ditinjau dari faktor penyebabnya, panen udang secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok yaitu : (1) panen normal, dan (2) panen bermasalah.

Panen Normal

Panen normal adalah kegiatan panen yang dilakukan pada suatu petakan tambak dengan dasar pertimbangan kondisi, ukuran dan kualitas udang di dalam tambak tersebut dianggap telah memenuhi persyaratan untuk dipanen sehingga dapat menghasilkan tingkat keuntungan finansial seperti yang diharapkan.

Panen Bermasalah

Panen bermasalah adalah kegiatan panen yang dilakukan pada suatu petakan tambak dengan kondisi udang terkena suatu masalah. Dasar pertimbangan yang digunakan dalam pengambilan keputusan untuk melakukan panen bermasalah adalah untuk menekan tingkat kerugian financial jika tidak segera dilakukan panen. Berdasarkan jenisnya, panen bermasalah dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu:
  1. Panen kuras, yaitu kegiatan pemanenan yang dilakukan dengan cara membuang populasi udang di dalam suatu petakan tambak melalui saluran pembuangan melalui proses pembuangan air secara total. Panen kuras biasanya dilakukan pada udang bermasalah dengan ukuran yang masih relative kecil (phase bulan pertama) dan populasinya menurun drastis, sehingga jika kondisi seperti ini dilanjutkan hanya akan memperbesar tingkat kerugian yang akan diperoleh).

  2. Panen dini, yaitu kegiatan pemanenan yang dilakukan pada suatu petakan tambak dengan kondisi udang bermasalah sebelum dianggap layak untuk dipanen secara normal. Panen dini dilakukan dengan dasar pertimbangan untuk menekan tingkat kerugian financial jika kondisi tersebut dipertahankan. Cara melakukan panen dini adalah sama dengan cara panen normal, yaitu melalui tahapan-tahapan tertentu dan peralatan yang diperlukan (akan diuraikan dalam pembahasan tersendiri).

    Panen dini, jika ditinjau dari tingkat keuntungannya tidak semuanya merugikan secara financial, karena pada kondisi, ukuran dan kualitas udang tertentu meskipun terkena masalah jika pengambilan keputusan yang diambil adalah tepat, maka pada kondisi seperti ini masih dapat mendatangkan keuntungan financial (meskipun tidak optimal).
Secara garis besar pengambilan keputusan terkait dengan kegiatan panen bermasalah haruslah cepat berdasarkan pertimbangan dua variable yaitu:
  1. Tingkat permasalahan pada udang. Seperti telah diketahui permasalahan udang pada dasarnya dapat muncul karena factor kondisi udang itu sendiri maupun karena terjangkitnya suatu jenis penyakit. Panen bermasalah lebih banyak dilakukan pada petakan tambak dengan udang terkena masalah, sehingga pengambilan keputusan terkait pemanenan perlu dilakukan secara cepat dan cermat agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.

  2. Tingkat keuntungan financial, yaitu perbandingan antara harga jual udang yang dipanen karena bermasalah dibandingkan dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan sampai saat pelaksanaan panen bermasalah tersebut.
Kegiatan panen udang meskipun sebagai tahap akhir dari suatu proses budidaya udang dalam satu siklus budidaya (terutama untuk panen normal) merupakan tahapan yang sangat penting juga untuk dipahami. Kualitas udang dan sifat/tingkah laku udang merupakan pengetahuan dasar yang perlu dipahami pada saat melakukan pemanenan udang. Pada kondisi tertentu (sering dijumpai di lapangan) udang mengalami penurunan kualitas yang sangat nyata pada saat dilakukan pemanenan, sehingga secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap harga jual dan tingkat keuntungan yang diperoleh menjadi tidak optimal.

Anda menyukai artikel ini, silakan klik tombol oranye ini Subscribe in a reader

Artikel Terkait :

  1. Keseragaman udang dan Alternatif Pengelolaannya
  2. Tingkat Keseragaman Udang
  3. Kenali Kualitas Pakan Udang Anda Secara Praktis
  4. Parameter Praktis Kualitas pakan Udang
  5. Bagaimana Mencapai Nilai FCR (Food Conversion Ratio) Secara Optimal
  6. Jangan Terperangkap Target FCR (Food Conversion Ratio)
  7. Pakan Buatan Untuk Udang
  8. Program Pakan Udang
  9. Frekuensi Pakan
  10. Program Pengelolaan Pakan Udang 02 - Penentuan Jenis Pakan (Pakan Alami)
  11. Program Pengelolaan Pakan Udang 01 - Latar Belakang
  12. Proses Tebar Benur 01 - Latar Belakang
  13. Kecerahan Perairan Tambak – 03 – Indikator Pada Udang
  14. Kecerahan Perairan Tambak – 02 –Tingkat Kecerahan
  15. Kecerahan Perairan Tambak - 01- Latar Belakang
  16. Warna Air Tambak – 03 – Kriteria Warna Air
  17. Warna Air Tambak – 02 – Aspek Analisis
  18. Warna Air Tambak - 01 - Dasar Pemikiran
  19. Kondisi Dasar Tambak – 03 - Dasar Pertimbangan
  20. Kondisi Dasar Tambak – 02 - Metode Pengamatan
  21. Kondisi Dasar Tambak - 01 - Latar Belakang

Selengkapnya......

Selasa, 24 November 2009

Tingkat Kekenyalan Udang

Kekenyalan udang sebagai salah satu indicator kondisi udang merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan suatu proses budidaya terutama pada kualitas udang yang akan dihasilkan, sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh pula terhadap harga jualnya. Secara sederhana tingkat kekenyalan udang dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh udang (bagian antara cangkang/kulit dengan daging) untuk kembali ke bentuk semula setelah mendapat daya tekan dari luar. Tingkat kekenyalan udang juga dapat diidentikan dengan “gemuk” atau “kurusnya” suatu udang karena faktor ini terkait erat dengan tingkat konsumsi pakan dari udang itu sendiri.

Secara praktis tingkat kekenyalan udang dapat diketahui dengan cara menekan tubuh udang menggunakan ibu jari dan telunjuk dan kemudian tekanan tersebut dilepaskan. Melalui cara ini maka dapat ditentukan tingkat kekenyalan dan kondisi udang pada saat itu. Tingkat kekenyalan udang secara umum dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu:
  1. Keropos, pada tingkatan ini udang dalam kondisi “sangat kurus” dan dapat dikategorikan pada kondisi parah. Pada kondisi ini jika kita menekan tubuh udang, maka akan terasa ada rongga antara cangkang/kulit dengan daging udang dan ada kecenderungan cangkang tersebut tidak/lama kembali ke bentuk semula. Jika sebagian besar populasi udang di dalam tambak memiliki kondisi yang sama, maka dapat dikatakan bahwa udang di dalam tambak tersebut pada kondisi yang parah. Kondisi seperti ini jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan penurunan kepadatan populasi udang yang cukup drastis, karena udang yang sudah keropos relative rentan terhadap penyakit selain itu juga dapat memicu kanibalisme antar udang di dalam tambak tersebut.

  2. Sedang, pada tingkatan ini udang dalam kondisi “kurus”. Pada kondisi ini jika kita menekan tubuh udang, maka akan terasa kulit/cangkang dan daging udang menyatu tetapi dalam kondisi kurang liat. Jika sebagian besar populasi udang di dalam tambak memiliki kondisi yang sama, maka dapat dikatakan bahwa udang di dalam tambak tersebut pada kondisi sedang.

  3. Kenyal, pada tingkatan ini udang dalam kondisi “gemuk”. Pada kondisi ini jika kita menekan tubuh udang, maka akan terasa kulit/cangkang dan daging udang terasa sangat liat. Jika sebagian besar populasi udang di dalam tambak memiliki kondisi yang sama, maka dapat dikatakan bahwa udang di dalam tambak tersebut pada kondisi bagus.
Sebagai upaya memperoleh tingkat kekenyalan udang yang ideal sebaiknya program pakan yang diterapkan mengikuti tingkat kebutuhan pakan dari udang itu sendiri. Program pakan yang terlalu ketat akan dapat mengakibatkan udang keropos. Sebaliknya program pakan yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan udang dalam kondisi “gemuk” meskipun bagus bagi udang tapi dapat mengakibatkan over feeding yang memicu penimbunan sisa pakan di dasar tambak dan jika kondisi seperti ini dibiarkan terlalu lama, maka dapat menimbulkan masalah bagi udang itu sendiri.

Pengamatan yang cermat terhadap kondisi udang pada saat mengecek pakan di anco dan pada saat sampling rutin merupakan salah satu alternative kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan tingkat kekenyalan udang dengan program pakan yang diterapkan (terkait dengan Food Conversion Ratio). Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka kondisi yang paling ideal adalah udang dalam kondisi “gemuk” dengan program pakan yang masih terkendali sesuai dengan tingkat kebutuhan udang.

Anda menyukai artikel ini, silakan klik tombol oranye ini Subscribe in a reader

Artikel Terkait :

  1. Keseragaman udang dan Alternatif Pengelolaannya
  2. Tingkat Keseragaman Udang
  3. Kenali Kualitas Pakan Udang Anda Secara Praktis
  4. Parameter Praktis Kualitas pakan Udang
  5. Bagaimana Mencapai Nilai FCR (Food Conversion Ratio) Secara Optimal
  6. Jangan Terperangkap Target FCR (Food Conversion Ratio)
  7. Pakan Buatan Untuk Udang
  8. Program Pakan Udang
  9. Frekuensi Pakan
  10. Program Pengelolaan Pakan Udang 02 - Penentuan Jenis Pakan (Pakan Alami)
  11. Program Pengelolaan Pakan Udang 01 - Latar Belakang
  12. Proses Tebar Benur 01 - Latar Belakang
  13. Kecerahan Perairan Tambak – 03 – Indikator Pada Udang
  14. Kecerahan Perairan Tambak – 02 –Tingkat Kecerahan
  15. Kecerahan Perairan Tambak - 01- Latar Belakang
  16. Warna Air Tambak – 03 – Kriteria Warna Air
  17. Warna Air Tambak – 02 – Aspek Analisis
  18. Warna Air Tambak - 01 - Dasar Pemikiran
  19. Kondisi Dasar Tambak – 03 - Dasar Pertimbangan
  20. Kondisi Dasar Tambak – 02 - Metode Pengamatan
  21. Kondisi Dasar Tambak - 01 - Latar Belakang

Selengkapnya......

Minggu, 08 November 2009

Cerita Bulan Ini - 3

Pada suatu pagi, Akhmad sebagai seorang teknisi tambak terlihat bergegas menuju lokasi tambak yang ditanganinya, karena ada beberapa petakan tambak yang dijadwalkan akan dilakukan sampling rutin. Memasuki lokasi tambak, Akhmad begitu semangat karena sudah terlihat beberapa petambak yang sudah menunggunya dengan peralatan sampling udang. “Syukurlah mereka sudah siap, kalau tidak, bisa terhambat kegiatan samplingku hari ini.” gumam Akhmad dalam hati. Akhmad mempercepat langkahnya sambil sesekali memperhatikan kondisi perairan tambak yang dia lewati. Sebelum sampai pada tempat dimana para petambak menunggunya, tiba-tiba Akhmad berhenti dan naik di dinding petakan tambak yang hendak disampling. Matanya menatap dengan seksama ke arah perairan tambak karena terlihat gelembung-gelembung kecil yang muncul dipermukaan air tambak pada beberapa tempat. Gelembung-gelembung itu terlihat olehnya karena pada saat itu kincir air dalam kondisi dimatikan untuk memberi kesempatan udang mengkonsumsi pakan yang sudah diberikan. Setelah beberapa saat Akhmad meneruskan langkahnya menghampiri para petambak yang sudah siap membantunya untuk melakukan aktifitas sampling.

“Selamat pagi semuanya, wah kelihatan semangat nih untuk sampling hari ini.” Sapa Akhmad kepada para petambaknya sambil mengeluarkan buku catatan dan kalkulator kecilnya dari saku bajunya. “Jelas semangat Pak, apalagi udang yang akan kita sampling sedang ‘lucu-lucunya’ “, sahut Fulan yang ditugasi untuk merawat udang pada petakan tambak yang hendak disampling itu. “ Pak Fulan bisa saja,” jawab Akhmad sambil tersenyum dan suasana di situpun menjadi ceria ketika petambak yang lainnya ikut tertawa menanggapi pernyataan Fulan.

“Ok, kalau sudah siap kita lakukan sampling sekarang,” ajak Akhmad. Sambil berkemas dia menghampiri Fulan, “Kapan terakhir membersihkan dasar tambak Pak Fulan?” tanya Akhmad. Sembari menenteng jala sampling, Fulan dengan cepat menjawab “Dua hari yang lalu, kalau saya di sini paling disiplin membersihkan dasar tambak Pak” kata Fulan dengan gayanya yang khas. Teman-teman disekelilingnya mendengar celoteh dari Fulan saling bersahutan membalas pernyataan Fulan. “Jadi dijamin bersih tambaknya Pak Fulan” sahut Akhmad sambil tersenyum. “Dijamin bersih, seperti orangnya” jawab Fulan singkat dan sekali lagi hal itu menimbulkan reaksi yang meriah dari yang lainnya. “Dasar tukang bohong,” kata Akhmad dalam hatinya seakan sudah dapat memprediksi kondisi dasar tambak Fulan yang sebenarnya.

Untuk membuktikan prediksinya, Akhmad memilih beberapa titik sampling di area tambak yang sudah dia amati sebelumnya. “Coba kita sampling di sini Pak Fulan” kata Akhmad. Mendengar aba-aba seperti itu Fulan dengan tangkasnya menebarkan jala ke titik sampling yang dimaksud. Secara perlahan Fulan mengangkat jala tersebut, dan secara perlahan juga mulai terlihat endapan lumpur hitam muncul dipermukaan air tambak. Melihat fenomena itu Akhmad pura-pura tidak memperhatikannya, sebaliknya Fulan sudah terlihat gelisah dan semakin gelisah ketika jala sudah seluruhnya terangkat. Kegelisahan Fulan dipicu warna jala menjadi kehitaman karena pengaruh lumpur hitam dari dasar tambak yang ikut terbawa oleh jala.

“Wah ….. hebat, tambak Pak Fulan benar-benar bersih, tapi kalau begini dikatakan bersih, seperti apa kotornya Pak” komentar Akhmad sambil tertawa yang disambut oleh cemoohan teman-teman Fulan secara hampir bersamaan sehingga terdengar seperti paduan suara. Fulan yang merasa sudah berbohong hanya bisa diam sambil tangannya melepaskan udang-udang yang tersangkut di jala untuk dimasukkan ke dalam ember sampling. “Waduh ternyata udangku juga ikut-ikutan berwarna gelap dibandingkan punya teman-temannya,” gumam Fulan sambil memperhatikan udang-udang yang sudah masuk ke dalam ember tersebut.

Berdasarkan cerita di atas, ada satu pertanyaan dasar yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi kita, yaitu : mengapa Akhmad sebagai seorang teknisi tambak dapat mengetahui bahwa Fulan telah berbohong tentang kondisi dasar tambaknya? Jika kita cermati, maka sebenarnya Akhmad sudah dapat memprediksi kondisi dasar tambak tersebut berdasarkan pengamatan terhadap permukaan air tambak pada kondisi kincir air tidak dioperasikan yang dilakukan sebelum kegiatan sampling. Pada permukaan air tambak tersebut terlihat gelembung-gelembung kecil yang muncul dari dasar tambak. Fenomena itulah yang dijadikan sebagai dasar dalam memprediksi kondisi dasar tambak.

Ada beberapa hal yang dapat kita jadikan sebagai bahan pembelajaran dari cerita di atas, antara lain:
  1. Banyak fenomena alam baik di dalam petakan tambak maupun di lingkungan sekitarnya meskipun kelihatan sepele dapat kita jadikan indicator dalam memprediksi suatu kondisi terkait dengan proses budidaya udang.

  2. Melalui pengamatan yang cermat dan rasa keingintahuan yang kuat akan semakin banyak pengetahuan kita dalam memprediksi hubungan sebab akibat yang terjadi dalam suatu proses budidaya udang.

  3. Terdapat korelasi yang erat antara unsur-unsur penyusun suatu ekosistem perairan tambak. Jika terjadi perubahan pada suatu unsur tersebut, maka akan berpengaruh pada unsur-unsur lainnya.

  4. Jadikan fenomena alam seperti dimaksud pada item no. 1 sebagai guru kita untuk menambah pemahaman dan wawasan yang tidak dapat kita dapatkan dari orang lain.
Semoga cerita tersebut di atas dapat bermanfaat bagi Anda semua.

Anda menyukai artikel ini, silakan klik tombol oranye ini Subscribe in a reader

Artikel Terkait :

  1. Cerita Minggu Ini - 2
  2. Cerita Minggu Ini -1

Selengkapnya......

Lokasi Pengunjung Blog

My Google Reader

My Lovely Visitors