Mesin Pencari

Promo Prooposal Serba 1 Juta

Minggu, 27 Februari 2011

Berita Budidaya Bulan Ini - 9

Target Produksi Udang Meleset
Trobos, 1 February 2011

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merilis data adanya kenaikan produksi udang nasional  sebesar 2,6 % dari 338.060 ton pada 2009 menjadi 352.600 ton pada 2010.

Sayang, kenaikan produksi udang tersebut belum cukup besar sehingga tak mampu memenuhi target produksi 2010 yang telah ditetapkan sebelumnya sebesar 400.300 ton. Padahal target produksi itu sudah pernah direvisi pada petengahan 2010 dari sebelumnya   410.000 ton.

Stagnannya produksi udang nasional membuat ekspor udang asal Indonesia di pasar Jepang dan Amerika Serikat tergeser oleh negara produsen udang lainnya seperti India dan Vietnam. Sementar Thailand tetap merajai pasar ekspor udang dunia. Para petambak udang ternya belum bisa melepaskan diri dari deraan penyakit udang, apalagi cuaca buruk sepanjang tahun membuat serangan semakin berat.

Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) wilayah Banyuwangi, Hardi Pitoyo mengatakan, faktor cuaca dan iklim yang tidak menentu membuat ekosistem hidup udang menjadi lebih buruk. “Kalau sudah berhubungan dengan iklim tentu akan menyebabkan penyakit dan pakan juga jadi rusak serta produksi turun,” jelas Pitoyo melalui sambungan telepon.

Celakanya, penurunan produksi udang terbesar justru terjadi di Lampung yang merupakan daerah utama penghasil udang di Indonesia. Di provinsi inilah grup SCI dan CP Prima memproduksi udang hingga menjadi penopang utama produksi udang nasional.

Menurut Pitoyo, dari total produksi udang vannamei nasional grup SCI pada 2010 sekitar  130 ribu ton atau sekitar 62,54 % dari produksi udang vannamei nasional. Produksi ini berasal dari kelompok SCI yang antara lain tersebar di Jawa Timur, Lampung, Medan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, dan Cirebon. Produksi terbesar SCI berada di Jawa Timur yaitu sebesar 1.000 – 2.000 ton per bulan.

Sementara CP Prima yang merupakan perusahaan integrator udang nasional, sampai September 2010 tercatat menyumbang produksi udang sebesar 33.059 ton atau sekitar 15,9 % dari total produksi udang vannamei nasional. Produksi tersebut  berasal dari 3 wilayah area pertambakan CP Prima di Lampung yaitu Central Pertiwi Bahari (CPB), Wahyuni Mandira (WM) dan Aruna Wijaya Sakti (AWS). Total tambak dari 3 wilayah tersebut adalah 13.507 buah tambak dengan luasan rata-rata tiap petak tambak 5.000 meter2.

Corporate Communication Manager PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima), George Basuki saat ditemui TROBOS di Jakarta belum lama ini menjelaskan, pihaknya tak menyangkal tahun lalu memang terjadi penurunan jumlah produksi mereka. “Penurunan produksi terjadi pada kuartal pertama hingga kuartal ke dua,” jelasnya.

Kondisi ini, jelas George, semata karena masih ada dampak dari penyakit Infectious Myonecrosis Virus (IMNV) yang melanda dari April 2009. Wabah penyakit yang biasa dikenal myo ini hampir 80 % paling banyak menyerang di wilayah CPB.

Berdasarkan catatan, produksi udang CP Prima 2 tahun belakangan terus mengalami penurunan. Produksi udang CP Prima pada 2008 sebesar 95.340 menurun menjadi 57.843 ton ada 2009 atau turun sekitar 39,30%. “Nah dampak IMNV ini terus berkepanjangan hingga pertengahan 2010 dan kemudian ditambah lagi cuaca yang kurang bersahabat,” kata George. Ia memprediksi sampai akhir tahun 2010 produks udang CP Prima tidak jauh berbeda dengan 2009.

Sumber: Trobos

2 komentar:

  1. Duh sedihnya, ternyata petambak gresik tidak menyumbang apa-apa untuk pasar ekspor ya? Kata data, tambak terbesar di Jatim ada di Gresik.

    BalasHapus
  2. Memang tambak terbesar Jatim adalah Gresik, tapi pemda malah suka membangun pabrik dan menguruk tambak jadi lahan pabrik. Kalau petambak benar-benar diberdayakan, petambak Gresik akan bisa menaikkan produksi udang-ikan yang pada akhirnya menaikkan kemakmuran.

    BalasHapus