Mesin Pencari

Promo Prooposal Serba 1 Juta

Selasa, 19 Februari 2008

Sampling Udang - 01

Latar Belakang, Tujuan dan Jenis Sampling

Sampling udang merupakan kegiatan yang mutlak diperlukan dalam suatu kegiatan usaha budidaya udang. Seperti telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, bahwa salah satu karakteristik usaha budidaya udang adalah bersifat ‘unvisible object’, yang berarti segala tingkah laku, kondisi dan pertumbuhan udang didalam tambak tidak dapat diamati secara langsung karena terhalang oleh perairan yang menjadi habitatnya.


Berdasarkan karakteristik seperti inilah salah satu alternatif kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengestimasi profil udang di dalam tambak adalah dengan melalui kegiatan sampling.

Aquaculture Biosecurity: Prevention, Control, and Eradication of Aquatic Animal Disease Small Scale Aquaculture Recirculating Aquaculture

Sampling udang secara sederhana dapat diartikan sebagai kegiatan pengambilan beberapa sample (contoh) udang pada satu populasi dalam suatu periode waktu tertentu. Mengacu pada pengertian tersebut di atas maka disarankan sebaiknya kegiatan sampling dilakukan secara berkala dari udang usia benur sampai udang usia dewasa dan saat menjelang panen.Tujuan sampling pada kegiatan budidaya udang secara umum antara lain untuk mengetahui :
  1. Kondisi udang yang terkait dengan kualitas udang. Pada saat dilakukan sampling dapat dilakukan pengamatan secara langsung terhadap kualitas udang yang menjadi sampel pengamatan.Hasil dari pengamatan dari beberapa kondisi udang dari kegiatan sampling dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengambilan keputusan dalam pemberian perlakuan/treatment terkait dengan teknis budidaya.Pada kondisi tertentu/khusus yaitu pada saat udang terkena masalah dengan kategori berat kegiatan sampling dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang mengarah pada pemanenan.

  2. Tingkat keseragaman udang, yaitu tingkat kevariasian ukuran dan berat udang dalam suatu populasi pada umur yang relatif sama pada satu periode waktu tertentu. Tingkat keseragaman udang pada suatu populasi dikatakan relatif bagus jika ukuran dan berat udangnya relatif sama (seragam), sebaliknya jika dalam suatu populasi udang memiliki ukuran dan berat yang bermacam-macam/bervariasi maka tingkat keseragaman udang dapat dikatakan relatif jelek.Tingkat keseragaman udang dalam suatu usaha budidaya udang akan sangat berpengaruh pada penyusunan program pakan terkait dengan jenis, ukuran dan berat pakan yang diberikan secara harian.

  3. Survival Rate (SR), yaitu tingkat kehidupan udang di tambak pada periode waktu tertentu dibandingkan dengan populasi awal. Pendekatan yang digunakan untuk mengetahui nilai SR adalah dengan menghitung rata-rata jumlah udang yang tertangkap dalam luasan jala tertentu yang dikalikan dengan luas petakan tambak dibandingkan dengan luasan jala yang digunakan.

  4. Average Body Weigth (ABW),yaitu berat rata-rata udang dalam suatu populasi udang pada saat periode tertentu. ABW diperoleh dengan jalan menghitung berat total dari udang dibagi jumlah udang yang tertangkap di dalam jala

  5. Biomass udang, yaitu jumlah berat total dari suatu populasi pada periode waktu tertentu dan biasanya dinyatakan dalam satuan berat. Biomass udang dapat diestimasikan melalui perkalian antara SR dengan jumlah populasi awal dikalikan dengan ABW udang pada saat tertentu.
  6. Size udang. Size udang dapat diartikan sebagai ukuran udang berdasarkan jumlah udang yang terdapat dalam 1 kg berat udang, atau dapat diformulasikan sebagai :Size udang = 1000 gr/ABW (gr). Sebagai contoh : ABW udang = 25 gr, maka size = 1000/25 = 40.
  7. Kondisi dasar tambak. Dalam kegiatan sampling terutama yang dilakukan dengan menggunakan jala, salah satu aspek yang dapat diamati selain yang terkait dengan kualitas udang adalah aspek kondisi dasar tambak. Badan jala pada saat digunakan/dilempar ke dalam tambak akan segera turun ke dasar tambak sehingga pada saat ditarik kembali selain udang jala tersebut juga akan membawa benda-benda termasukkotoran yang berada di dasar perairan. Pengamatan yang perlu di cermati adalah adanya lumpur hitam dan bangkai udang dalam kondisi di luar batas kewajaran.
  8. Keberadaan dan tingkat populasi predator/kompetitor di dalam tambak. Pada saat sampling dengan menggunakan jala dapat diperkirakan jenis dan tingkat kepadatan predator/kompetitor yang hidup berdampingan dengan udang di dalam satu petakan tambak.
Sebagai catatan : item no (2) dan no (4) di atas masih nilai estimasi yang bersifat kasar karena bagaimanapun juga kegiatan budidaya dengan udang sebagai obyeknya relatif memiliki karakteristik yang tidak dapat dianggap sebagai obyek yang statis dan menyebar rata di dasar tambak.

Mengacu pada beberapa tujuan sampling udang tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa hasil dari kegiatan sampling diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam hal :
  1. Pengambilan keputusan terkait dengan teknis budidaya sesuai dengan kondisi/kualitas udang serta kondisi dasar tambak pada saat itu.
  2. Estimasi/penyesuaian kebutuhan pakan udang sesuai tingkat kebutuhan udang pada saat itu.

Seperti telah disebutkan di atas bahwa kegiatan sampling udang sebaiknya dilakukan secara berkala dari udang usia benur sampai udang usia dewasa dan saat menjelang panen.Jangka waktu antar kegiatan sampling dalam satu periode budidaya udang dalam penerapannya di lapangan dapat dikatakan bervariasi tergantung dari kebiasaan, misalnya 10 harian, 20 harian atau satu bulan sekali yang terutama adalah sifatnya yang berkala dan teratur.

Selain sampling berkala dan teratur, dalam kondisi tertentu dapat dilakukan sampling yang bersifat insidentalyang disebabkan adanya udang terindikasi terkena suatu masalah, sehingga perlu pengamatan secara langsung terhadap kualitas udang di dalam tambak tersebut sebagai upaya mengestimasi tingkat keberlanjutan satu siklus budidaya pada tambak tersebut. Khusus untuk indikasi masalah yang ditandai dengan adanya kematian massal udang di dasar tambak, maka dengan melakukan sampling jala dapat diperkirakan tingkat keparahan masalah tersebut. Jika kematian udang sudah menyebar di dasar tambak maka dapat diindikasikan permasalahan tersebut sudah pada tingkat sangat parah dan pengambilan keputusannya sebaiknya mengarah pada pemanenan. Sampling yang bersifat insidental juga biasa dilakukan pada saat menjelang panen normal terutama untuk memberikan data/informasi kepada para calon pembeli tentang size dan kualitas udang yang dihasilkan, sehingga dapat dilakukan kesepakatan tentang harga/nilai jual udang tersebut.

Berdasarkan alat yang digunakan maka kegiatan udang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
  1. Sampling ancho. Kegiatan sampling ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu anco sebagai alat pengambilan contoh udang. Sampling anco biasanya dilakukan untuk udang-udang yang relatif masih berukuran kecil. Catatan : Ancho di dalam kegiatan budidaya tambak udang merupakan alat yang digunakan untuk mengontrol program pakan dan pertumbuhan serta kualitas udang secara harian/insidendal Ancho biasanya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 1 m x 1m dengan kerangka dari kayu/besi dan bagian tengahnya dikaitkan dengan streameen.
  2. Sampling Jala.Kegiatan sampling ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu jala sebagai alat pengambilan contoh udang. Sampling jala biasanya dilakukan untuk udang-udang berukuran relatif besar (>2.5 gr ) sehingga dapat terjerat dalam mata jala yang dgunakan. Jala yang biasa digunakan berukuran diameter 6 m, panjang 3 – 4 m dengan ukuran mata jala yang bervariasi tergantung lokasi dan pembuatnya (mata jala disesuaikan dengan ukuran udang yang menjadi target sampling). Meskipun alat yang digunakan berbeda tetapi tujuan yang hendak dicapai relatif hampir sama yaitu mengetahui kondisi/kualitas udang dan perairan seperti telah diuraikan dalam penjelasan tersebut di atas.
Selain ke dua jenis sampling di atas terdapat juga sampling benur. Kegiatan sampling ini biasanya dilakukan pada saat pengadaan benurdi lokasi pembenihan/hatchery dan pada saat akan memulai tebar benur.Tujuan dari sampling benur ini lebih mengarah pada estimasi jumlah/populasi benur, serta kondisi/kualitas benur yang akan ditebar.Kegiatan sampling ini dilakukan secara penghitungan manual dan pengamatan visual yang cermat, sehingga pada saat dilakukan tebar dapat diketahui berapa tingkat kepadatan (populasi) dan kondisi/kualitas benur dalam satu petakan tambak.

Anda menyukai artikel ini, silakan klik tombol oranye ini Subscribe in a reader

Artikel Terkait :

  1. Shrimp Sampling 01 - Background, Objectives and Kind of Samplings (English Version)
  2. Sampling Udang-04 - Sampling Jala
  3. Sampling Udang 03 - Sampling Ancho
  4. Sampling Udang 02 - Bahan/Peralatan dan Tahapan Sampling Udang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar