Cetta Cendekia Consultindo

Cetta Cendekia

Mesin Pencari

Selasa, 19 Februari 2008

Shrimp Culture News of The Month - 1

The Black Tiger Ready to Roar/Macan Hitam Siap Mengaum
Source : trobos 01 December 2007
Sewindu sudah pamor udang windu (Penaeus monodon) tenggelam oleh nama besar udang vannamei (Penaeus vannamei) yang disebut-sebut sakti dan tahan penyakit. Kini saat kebesaran vannamei mengendor, dan dituding sebagai biang melesetnya produksi udang nasional dari target, nama windu kembali santer didengungkan.


Puncaknya saat Seminar Nasional Breeding, Genetika, dan Bioteknologi Perikanan di Bali bulan lalu.
Para ahli dan praktisi yang hadir di acara itu sepakat, sudah saatnya kembali ke windu! Mereka berpendapat vannamei kian lama kian loyo, tak lagi kebal dari gempuran penyakit. Kerinduan akan kejayaan windu belakangan menguat. Yang kadangkala mengatasnamakan penyelamatan windu sebagai spesies lokal dari ancaman kepunahan.

Cukup terpuji sebenarnya. Sayang, niat itu datang terlambat. Apalagi jika dibandingkan dengan negara lain yang begitu getol mengembangkan si macan hitam ini (black tiger, sebutan lain udang windu). India dan Vietnam termasuk yang serius mendalami pengembangannya. Tak ketinggalan Thailand yang tak pernah meninggalkan windu. Mereka melibas Indonesia dan menguasai pasar udang windu dunia. Padahal di era 80-an sampai awal 90-an, Indonesia merajai percaturan udang internasional dengan windu.

Sayang di 1998, metoda budidaya jor-joran demi untung besar yang ditempuh petambak harus dibayar mahal. Kualitas tambak jadi merosot, udang windu dihajar bermacam penyakit, dan tak terhitung petambak yang gulung tikar.

Momen itu, menjadi titik awal popularitas vannamei. Ia datang bak penyembuh luka. Ditimpali promosi kebal penyakit, terpincutlah perudangan nasional. Windu pun ditinggalkan berikut pengembangannya. Tak terkecuali teknik ablasi (pembuatan induk) yang tinggal sedikit sentuhan penyempurnaan.

“Kita memang harus berpikir untuk kembali ke windu,” kata Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI), Iwan Sutanto. Pendapat serupa muncul dari Kepala Riset Perikanan Budidaya, Ketut Sugama yang hadir pada seminar itu. “Windu adalah spesies asli Indonesia, jadi kenapa tidak dijalankan seperti vannamei sekarang?” ujarnya.

Tak sekadar mengejar ketinggalan dari negara lain, tapi ancaman kepunahan juga terus membayangi. “Ini native species (spesies lokal), kalau tidak dikembangkan bisa punah,” imbuh Manager Research and Development Aquafeed Operation PT Suri Tani Pemuka¯produsen pakan ikan¯, Widyatmoko di lain kesempatan. Apalagi, katanya, negara-negara lain justru telah intens mengembangkan riset genetika untuk windu.
Masalahnya, untuk kembali ke windu tak semudah dulu waktu awal-awal budidaya di era 90-an. “Budidaya windu di Indonesia sekarang lebih sulit,” kata Ketut. Menurut dia, peluang untuk kena penyakit pada windu lebih besar dibandingkan vannamei. Ini karena windu menggunakan dasar tambak atau kolam sebagai tempat hidupnya sementara vannamei memanfaatkan seluruh badan air sebagai tempat hidupnya.

Iwan pun urun pendapat, “Jika beralih ke windu harus yang tahan penyakit!”. Padahal, tegas Iwan, windu yang tahan penyakit saat ini belum ada. “Terlalu berbahaya kalau tetap mau dikembangkan. Sebab biaya produksi windu itu mahal, bisa mencapai Rp 35 ribu per kilonya. Kalau gagal ya sudah… hancur,” jelas Iwan menggambarkan risiko memelihara windu dibandingkan dengan vannamei yang biaya produksinya lebih kecil yaitu sekitar Rp 27 ribu per kilo.

Di satu sisi, Widyatmoko meletupkan harapan. Menurut dia, risiko terkena penyakit antara windu dan vannamei sebenarnya sama saja. Induk vannamei yang impor sejatinya tidak sepenuhnya SPF (Specific Pathogen Free/ bebas penyakit dan SPR (Spesific Pathogen Resistant/ tahan penyakit). “Masuknya mereka ke Indonesia tidak bisa sepenuhnya dikontrol. Ketika mereka dilepas ke alam, siapa yang bisa menjamin mereka masih bebas penyakit?” katanya. Alasan ini membuat vannamei tak kalah berisiko dibandingkan windu.

Untuk berita selengkapnya trobos on line

Source : trobos online 01 December 2007

Anda menyukai artikel ini, silakan klik tombol oranye ini Subscribe in a reader

Artikel Terkait :

  1. Shrimp Culture News of The Month - 3
  2. Shrimp Culture News of The Month - 2
  3. Sejarah Perkembangan Budidaya Udang

2 komentar:

  1. ---, menurut saya memulihkan kembali budidaya udang windu (sebagai Udang ASLi indonesia) sudah sepatutnya di dukung, pasti sangatlah membanggakan jika menjadi salah satu ICON perundangan di Indonesia. tapi selama kejadiaan dilapangan petani masih sangat khawatir untuk kembali membudidayakannya. Menurut saya sebaiknya perlu di pelajari dan dilakukan percobaan kembali untuk membudidayakannya.

    BalasHapus
  2. Hukum Alam. Jika sesuatu bisa menghasilkan tentu akan mmbuat pengusaha meng"garap"nya. Bagaimana dengan windu? Saat ini masih di lakukan oleh petambak secara tradisional dengan alasan benurnya murah. Bukan karena windu masih bisa dipelihara. Artinya jika sama-sama kena penyakit ruginya tidak sebesar vanamei. Namun dengan adanya vanamei "lokal" yang murah, petambak besar pun sebagian juga turut
    mencobanya. Jadi....buatlah benur windu
    seperti vanamei bule yang sampai saat ini masih banyak disukai petambak besar (Lampung, Sumbawa, Sibolga, dll,..)
    Thaks
    Jek

    BalasHapus