Mesin Pencari

Promo Prooposal Serba 1 Juta

Selasa, 19 Februari 2008

Waspada Terhadap Musim Hujan

Indonesia sebagai negara tropis memiliki dua musim di dalam satu tahun, yaitu (i) musim hujan dan (ii) musim kemarau. Kedua musim tersebut sangat berpengaruh terhadap sistem budidaya udang terutama yang terkait dengan teknis budidaya. Pada pembahasan ini akan diuraikan tentang perlunya mewaspadai musim hujan dalam melakukan kegiatan budidaya udang, karena pada saat ini di Indonesia sedang berlangsung musim hujan.


Beberapa item yang perlu diwaspadai pada saat musim hujan terkait dengan teknis budidaya antara lain ;
  1. Tingkat kestabilan kualitas air tambak. Pada saat musim hujan, kualitas air tambak cenderung tidak stabil dan berfluktuasi serta pada kondisi ekstrim akan terjadi penurunan kualitas perairan secara drastis. Seperti telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya, kualitas perairan erat sekali dengan aktivitas plankthon (phytoplankthon) dalam berfotosintesa untuk menghasilkan cholorophyl (zat hijau daun) yang sangat berguna dalam menjaga keseimbangan ekosistem perairan tersebut. Kegiatan fotosintesa oleh plankthon (phytoplankthon) tersebut sangat tergantung oleh adanya sinar matahari, sedangkan pada musim hujan intensitas sinar matahari di dalam perairan tambak relatif minim sehingga kualitas air tambak cenderung tidak stabil. Pada saat curah hujan sangat tinggi, bahkan sering dijumpai fenomena “plankthon collaps”, yaitu plankthon yang ada di dalam perairan tambak mengalami “kematian secara massal”. Pada kondisi kulitas air tambak tidak stabil, udang akan sangat mudah mengalami stress dan sangat rentan terhadap berbagai ancaman penyakit.

  2. Sumber pemasukan air (inlet). Di Indonesia secara umum sumber pemasukan air (inlet) yang digunakan untuk sirkulasi air tambak adalah air yang diambil secara langsung dari laut atau sungai besar. Pada saat musim hujan sumber pemasukan air ini relatif keruh dan kotor karena erosi dan kotoran yang terbawa oleh aliran air laut/sungai. Kondisi air seperti ini jika digunakan secara langsung dalam proses sirkulasi air tambak akan berpengaruh terhadap kualitas air yaitu adanya partikel-partikel di dalam perairan tambak. Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan penyakit insang merah pada udang;

  3. Program pemberian pakan. Pada saat musim hujan, program pemberian pakan (terutama yang terkait dengan pakan harian) biasanya terganggu baik itu frekuensi yang diberikan maupun tingkat rataan sebaran pakan dalam petakan. Kondisi seperti ini lebih terkait dengan sikap dan kedisiplinan dari petugas pemberi pakan, karena biasanya seseorang cenderung malas dan seenaknya dalam memberikan pakan dalam kondisi hujan. Perubahan frekuensi pakan dan sebaran pakan yang tidak merata secara tidak langsung dapat mengakibatkan ukuran size udang/tingkat variasi udang akan beragam dan pada kondisi ekstrim dapat memperburuk kondisi udang.
Berdasarkan penjelasan beberapa item di atas, maka perlakuan teknis budidaya yang direkomendasikan untuk diterapkan pada saat musim hujan antara lain :
  1. Pemupukan secara intensif. Pada saat musim hujan pemberian pupuk harus lebih sering dilakukan hal ini untuk menjaga kestabilan plankthon (phytoplankthon) di dalam perairan tambak. Hal yang perlu diingat adalah lebih baik memberikan pupuk dalam jumlah yang tidak terlalu banyak tetapi rutin dilakukan daripada memberikan pupuk dalam dosis besar pada saat terjadi plankthon collaps. Selain itu manfaatkan sinar matahari secara maksimal untuk melakukan pemberian pupuk ini.

  2. Pengoperasian kincir secara maksimal. Perlakuan ini diperlukan untuk mengoptimalkan proses pemupukan yang telah dilakukan dalam rangka membantu menjaga kestabilan plankthon (phytoplankthon). Pengoperasian kincir juga diperlukan untuk menjaga kondisi perairan tambak agar tidak terjadi perbedaan yang menyolok antara permukaan (yang disebabkan oleh air hujan) dan air di lapisan dasar tambak. Selain itu pengoperasian kincir juga untuk menambah suplai oksigen di dalam perairan karena pada saat hujan oksigen yang dihasilkan oleh proses fotosintesa plankthon berkurang drastis.

  3. Sirkulasi air secara oplos. Pengertian oplos adalah sirkulasi air yang dilakukan melalui cara buang isi secara bersamaan. Metode sirkulasi air seperti ini juga diperlukan untuk menjaga kondisi perairan tambak agar tidak terjadi perbedaan yang menyolok antara permukaan (yang disebabkan oleh air hujan) dan air di lapisan dasar tambak. Jika sumber pemasukan air (inlet) dalam kondisi keruh/kotor, untuk sementara jangan dilakukan sirkulasi air.

  4. Monitoring secara ketat jadwal dan cara pemberian pakan terutama pada saat hujan.
Uraian tersebut di atas merupakan cara praktis untuk menyiasati teknis budidaya udang pada saat musim hujan, maka waspadailah musim hujan.

Anda menyukai artikel ini, silakan klik tombol oranye ini Subscribe in a reader

Artikel Terkait :

  1. Beware of The Rainy Season (English Version)
  2. Identifikasi Permasalahan Kualitas Air Tambak
  3. Metode Pengelolaan Kualitas Air Tambak 05 - Penggunaan Bahan Kimia dan "Obat-Obatan"
  4. Metode Pengelolaan Kualitas Air Tambak 04 - Inokulasi Air
  5. Metode Pengelolaan Kualitas Air Tambak 03 - Pemupukan Air Tambak
  6. Metode Pengelolaan Kualitas Air Tambak 02 - Sirkulasi Air
  7. Metode Pengelolaan Kualitas Air Tambak 01 - Latar Belakang
  8. Pengelolaan Kualitas Air Tambak 05 - Kondisi Dasar Tambak
  9. Pengelolaan Kualitas Air Tambak 04 - Kondisi Fisik Air Tambak
  10. Pengelolaan Kualitas Air Tambak 03 - Warna Air Tambak
  11. Pengelolaan Kualitas Air Tambak 02 - Kecerahan Perairan Tambak
  12. Pengelolaan Kualitas Air Tambak - 01

2 komentar: